Sabtu, 15 Agustus 2009

ASKEP PENYAKIT TBC

BAB II
TIJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Penyakit
1. Pengertian
Tubercolosis adalah penyakit menular langsung yang di sebabkan oleh kuman TBC (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ lain.
Tuberculosis adalah penyakit menular yang di sebabkan oleh kuman mycobacterium tubercolosa masuk ke dalam tubuh manusia melelui udara pernapasan ke dalam paru-paru kemudian kuman dapat menyebar dari paru-paru kebagian tubuh yang lain melalui system peredaran darah dan system saluran limfe atau penyebaran ke tubuh lainnya (Soeparman, Dkk, 1998:715).
Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobakterium Tuberculosa yang merupakan bakteri batang tahan asam, dapat merupakan organisme patogen atau saprofit (Sylvia Anderson, 1995:753).
Tuberkulosis adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru (Brunner dan Suddart. 2002:584).
Tuberkulosis adalah contoh lain infeksi saluran nafas bawah. Penyakit ini disebabkan oleh mikroorganisme Mycobacterium tuberculosis (Elizabeth J. Corwn, 2001 ; 414).
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobakterium tuberkulosa dengan gejala yang sangat bervariasi (FKUI 2001; 472).
Dari beberapa pengertian di atas, penulis dapat menyimpulkan tuberkulosis paru adalah suatu penyakit infeksi pada saluran nafas bawah yang menular disebabkan mycobakterium tuberkulosa yaitu bakteri batang tahan asam baik bersifat patogen atau saprofit dan terutama menyerang parenkim paru, dapat menyebar dari paru-paru keorgan tubuh yang lain melalui system peredaran darah dan system saluran limfe




2. Anatomi dan fisiologi
Paru-paru merupakan bagian dari organ sistem pernafasan, diman organ pernafasan dimulai dari nasal berlanjut ke faring, laring, trakhea kemudian bronchus. Bronchus terdiri dari bronchus lobaris, bronchus segmentalis dan brochus terminalis.
Paru-paru adalah suatu organ yang berbentuk kerucut engan apeks diatas muncul sedikit lebih tinggi dari clavikula didalam dasar leher dan terletak didalam rongga torax. Setiap paru dilapisi oleh suatu membran serous yang disebut dengan pleura viceral, sementara dinding thorax dilapisi oleh pleura parietal. Diantara kedua pleura ini terdapat rongga potensial yang disebut dengan rongga pleura yang didalamnya terdapat sekitar 10-20 cc cairan untuk menurunkan gaya gesek permukaan selama pergerakan kedua pleura saat respirasi. Tekanan rongga pleura dalam keadaan normal memiliki tekanan –2,5 mmHg.
Rongga thorax tibatasi oleh kosta superiorpada bagian atas, samping oleh costa dan bagian bawah oleh diagfrahma. Paru-paru sebelah kanan relatif labih kecil dibanding yang kiri dan memiliki bentuk bagian bawah sepertikonkaf karena tertekan oleh hati. Paru-paru kanan memiliki 3 lobus dan paru kiri memiliki 2 lobus.
Paru-paru divaskularisasi dari dua sumber :
a. Arteri bronchial yang membawa zat-zat makanan pada daerah conducting portion, bagian paru yang tidak terlibat dalam pertukaran gas. Darah kembali melalui vena-vena bronchial.
b. Arteri dan vena pulmonal yang bertanggung jawab pada vaskularisasi bagian paru yang terlibat dalam pertukaran gas yaitu alveolus.
Persarafan penting dalam aksi pergerakan pernafasan disuplai melalui N. spinal thoraxic mempersarafi otot-otot interkosta. Disamping saraf-saraf tersebut paru juga dipersarafi oleh serabut saraf simpatis dan parasimpatis.
Pernafasan yang dilakukan menyediakan suplai udara segar secara kontinue kedalam membran alveoli. Keadaan ini melalui dua fase yaitu inspirasi dan ekspirasi. Kedua fase ini sangt tergantung kepada karakter paru dan rongga thoraks.
Jenis pernafasan terdiri dari pernafasan eksternal dan pernafasan internal. Pernafasan eksternal terjadi di paru-paru dimana ada perpindahan secara difusi oksigen dari udara luar kedalam kapiler melalui alveoli. Sedangkan pernafasan internal terjadi didalam jaringan dimana terjadi difusi O2 dari kapiler ke jaringan dan CO2 hasil metabolisme dari jaringan dibuang dan dibawa melalui kapiler, venula dan berlanjut ke sistem kardiovaskuler.
Pada penyakit TB paru basil Tuberculosis akan tertimbun di paru tepatnya di alveoli yang kemudian akan terjadi peradangan. Akibat peradangan selaput lendir pada batang tenggorokan akan terangsang sehingga bertambah sekresinya dan lama-lama saluran menjadi sempit oleh sekret dan klien menjadi sesak nafas.

Alveoli
Alveolus dalam kelompok sakus alveoloris yang menyerupai anggur. Berbentuk sakus terminalis dipisahkan dari alveolus disekat oleh dinding tipis atau septum. Alveolus merupakan unit funsional paru sebagai tempat pertukaran gas. Dalam setiap paru-paru terdapat sekitar 300 juta alveolus dengan luas permukaan total seluas sebuah lapangan tenis. Surfaktan, sejenis fosfolipid yang dapat mengurangi tegangan permukaan dan mengurangi resistensi terhadap pengembangan pada waktu inspirasi. Dan mencegah kolaps alveolus pada waktu ekspirasi.
Faktor yang berperan dalam pembentukan surfaktan adalah kematangan sel-sel alveolus dan sistem enzim biosintetiknya. Kecepatan pergantian yang normal. Ventilasi yang memadai, dan aliran darah ke dinding alveolis. Defisiensi surfaktan dianggap sebagai faktor penting pada patogenesis sejumlah penyakit paru-paru (Sylvia A. Price. 1994 :648)

Bagian paru-paru dijelaskan sebagai berikut:
1) Lobus paru-paru
Paru-paru dibagi menjadi beberapa belahan atau lobus oleh fisura. Paru-paru kanan mempunyai tiga lobus dan paru-paru kiri dua lobus. Setiap lobus tersusun atas lobula. Sebuah bronkhial kecil masuk ke dalam setiap lobula dan semakin ia bercabang, semakin menjadi tipis dan akhirnya berakhir menjadi kantong kecil-kecil yang merupakan kantung udara paru-paru. Jaringan paru-paru bersifat elastik, berpori dan seperti spon.
2) Brankhus Pulmonaris
Trakhea terbelah menjadi dua bronkhus utama, bronkhus ini bercabang lagi sebelum masuk paru-paru. Bronkhus pulmonaris bercabang-cabang baru kemudian memasuki paru-paru. Saluran yang besar mempertahankan agar struknya tetap serupa dengan yang berada di trakhea. Saluran ini berdinding fibrosa berotot yang mengandung bahan tulang rawan dan akhirnya tinggal dinding fibrosa berotot dan lapisan silia.
Bronkhus terminalis masuk ke dalam saluran lain yang disebut vestibula dan mengalami perubahan pada membran pelapis yaitu sel epitellium pipih.
Vestibula berjalan beberapa infundibula di dalam dindingnya dijumpai kantong udara. Kantung udara atau alveolus terdiri atas selapis sel epitelium pipih. Alveolus berfungsi sebagai pertukaran gas pada pembuluh kapiler di alveor.
3) Hilus Paru-paru
Hilus terdiri dari arteri pulmonalis yang mengembalikan darah tanpa oksigen ke dalam paru, sedangkan udara pulmonalis yang berfungsi mengembalikan darah berisi oksigen dari paru ke jantung. Brankhus yang bercabang dan beranting membentuk pohon bronkhial sebagai jalan udara utama. Arteri bronkhialis yang menghantarkan darah arteri ke jaringan paru. Vena bronkhialis berfungsi mengembalikan sebagian darah dari paru-paru ke vena kava superior. Persyarafan paru adalah saraf vagus.
4) Pleura
Pleura viseralis melapisi paru-paru, masuk ke dalam fisura dan dengan demikian memisahkan lobus-lobus dari paru. Membran ini kemudian dilepas ke arah hilus dan membentuk pleura porietalis, dan melapisi bagian dalam dinding dada. Pleura yang melapisi iga-iga disebut pleura kostatis dan pleura yang melapisi diafragma adalah pleura diafragmatika serta bagian yang terletak di leher dikenal dengan nama pleura servikalis. Pleura diperkuat oleh membran yang kuat bernama membran supra pleuralis (fasio Sibson) dan di atas membran ini terletak arteri subklavia. Diantara lapisan-lapisan pleura terdapat eksudat yang berfungsi menghindarkan gesekan antara paru-paru dan dinding dada saat bernafas.
Mekanisme Pernafasan
Mekanisme pernafasan dibagi ke dalam tiga bagian yaitu :
1) Ventilasi
Ventilasi yaitu proses bergeak masuk dan keluarnya udara dari paru-paru karena selisih tekanan yang terdapat diantara atmosfir dan alveolus oleh kerja mekanik alat-alat pernafasan. Masuk dan keluarnya udara dari atmosfir dimungkinkan adanya peristiwa mekanik inspirasi yaitu volume thorax bertambah besar karena diafragma turun dan iga terangkat akibat kontraksi dari beberapa otot m. sternokleidomastocdius mengangkat sternum ke atas dan m. serratus, m. scalensus, dan m. intercostal exsternum berperan mengangkat iga-iga
Thorax membesar ke tiga arah yaitu ke bagian anteroposterior, lateral dan vertikal. Peningkatan volume ini menyebabkan penurunan tekanan intrapleura dari sekitar –4 mm Hg (relatif terhadap tekanan atmosfir) menjadi sekitar –8 mmHg bila paru-paru mengembang pada waktu inspirasi. Pada saat yang sama tekanan intrapulmonal atau tekanan saluran udara menurun sampai –2 mm Hg (relatif terhadap tekanan atmosfir) dari 0 mm Hg pada waktu inspirasi. Selisih tekanan antara saluran udara dan atmosfir menyebabkan udara mengalir ke dalam paru-paru sampai tekanan saluran udara pada akhir inspirasi sama lagi dengan tekanan atmosfir
2) Difusi
Difusi yaitu kekuatan pendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah dan fase gas. Tekanan parsial oksigen dalam atmosfir pada permukaan laut besarnya sekitar 149 mm Hg (21% dari 760 mm Hg). Pada waktu oksigen diinspirasi dan sampai di alveolus pada tekanan parsial ini akan mengalami penurunan sampai sekitar 103 mm Hg.. Penurunan tekanan parsial ini terjadi berdasarkan fakta bahwa udara inspirasi tercampur dengan udara dalam ruang sepi anatomik saluran udara dan dengan uap air. Dalam keadaan istirahat normal difusi dan keseimbangan oksigen di kapiler paru-paru dan alveolus berlangsung kira-kira 0,25 detik dari total waktu kontak selama 0,75 detik
Kecepatan difusi dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
Ketebalan membran
Luas permukaan membran
Koefisien difusi gas dalam substansi membran
Perbedaan tekanan antara kedua sisi membran
3) Transfortasi dan perfusi
Transportasi yaitu ikatan kimia oksigen dengan haemoglobin yang bersifat reversibel. Pada tingkat jaringan oksigen akan berdisosiasi dari haemoglobin dan berdifusi ke dalam plasma, dari plasma oksigen berdifusi ke sel-sel jaringan tubuh untuk memenuhi kebutuhan jaringan yang bersangkutan
Transportasi dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
Peningkatan konsentrasi karbondioksida
Peninggian temperatur darah
Peningkatan 2.3 disfosfogliserat (DPG) yaitu senyawa fosfat yang secara normal berada dalam darah tepi konsentrasinya berubah pada kondisi yang berbeda


3. Etiologi
Penyabab TB paru adalah Mycobacterium Tuberculosis, sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4 um dan tebal 0,3-0,6 um. Species lain kuman ini yang dapat memberikan infeksi pada manusia : M. bovis, M. kansasi dan M. intraseluler. Sebagian besar dari kuman ini terdiri dari asam lemak ( lipid ). Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan dari gangguan kimia dan fisik.
Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin atau lembab (dapat bertahan hidup bertahun-tahun dalam lemari pendingin). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dorman, kuman ini dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis lagi.
Didalam jaringan kuman hidup sebagai parasit intra seluler yakni dalam sitoplasma macrofag. Makrovagus yang semula memfagositasi malah kemudian disenanginya karena mengandung lipid.
Sifat kimia dari kuman ini adalah aerob. Sifat ini menunjukan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apikal paru-paru lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain, sehingga bagian ini merupakan tempat predeteksi penyakit tuberculosis.

4. Gejala-gejala
Adapun gejala-gejala klinis pada penderita tuberculosis dapat bermacam-macam atau malah tanpa disertai keluhan sama sekali.
Gejala-gejala tuberculosis (DEPKES 2002 : 13)
a. Gejala Utama
Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih
b. Gejala tambahan yang sering dijumpai
- Dahak bercampur darah
- Batuk darah
- Sesak napas dan nyeri dada
- Badan lemh, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan




Demam
Biasanya sub febris menyerupai demam influenza tapi kadang-kadang panas badan dapat mencapai 40-41o C. serangan demam pertama dapat sembuh kembali, begitulah seterusnya hilang timbul, sehingga penderita malas tidak pernah berobat dari serangan demam influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi daya tahan tubuh penderita dan berat ringannya infeksi kuman tuberkulosis yang masuk.
Batuk
Gejala ini banyak ditemukan. Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronchus. Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang. Sifat batuk mulai dari yang kering, kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif. Keadaan ini yang lanjut adalah berupa batuk darah (haemaptoe) karena terdapat pembuluh-pembuluh darah yang pecah.
Sesak Nafas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak nafas, sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru-paru.
Nyeri Dada
Gejala ini jarang diemukan, nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis.
Malaise
Penyakit tuberkulosis bersifat radang yang menahun, gejala malaise sering ditemukan, anoreksia, keadaan makin kurus (BB menurun), sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam.
Infeksr Primer




5. Patofisiologi
Basis tuberculosis bisa masuk kedalam tubuh dengan 3 cara yaitu melalui sluran pernafasan, saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberculosis disebakan karena inhalasi kuman tuberkel sedangkan untuk saluran cerna biasanya disebabkan oleh susu yang sudah terkontaminasi dan mengandung basil jenis bovin.
Basil tuberculosis masuk kedalam paru-paru melalui saluran pernafasan yang pertama dijangkiti ialah apeks paru sebelah kiri atau kanan dan dapat kedua-duanya. Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. Organisme yang melaui kelenjar getah bening dalam jumlah kecil akan mencapai aliran darah yang kadang-kadang dapat menimbulkan lesi pada bagian organ. Jenis penyebaran ini dikenal dengan nama lipohematogen. Jenis penyebaran hematogen ialah fenomena akut yang biasanya menyebabkan tuberculosis milier, ini terjadi jika fokus basil tersebut merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme masuk kedalam sistem vaskuler dan tersebar ke organ-organ tubuh.
Kemudian timbul tuberkel yaitu berupa bintik-bintik kecil dimana kuman itu kemudian bersarang, tuberkel ini berisi tuberculosis dan sel-sel yang sudah mati kemudian bersatu dan lama-kelamaan akan akan terjadi proses perkejuan dimana jaringan paru akan mati atau nekrosis.
Jaringan-jaringan yang mati ini akan dikelurkan penderita waktu batuk dan akhirnya beberbentuk suatu rongga yang disebut caverneu dan ini pada pembuluh darah yang pecah maka akan terjadi hemaptoe (batuk darah).

Tuberkulosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel. Sel efektornya adalah makrofag, sedangkan limfosit T (sel T) adalah sel imunoresponsifnya. Tipe imunitas ini biasanya lokal, melibatkan makrofag yang diaktifkan di tempat infeksi oleh limfosit dan limfokinnya. Respon ini disebut sebagai reaksi hipersensitifitas.
Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveoalus biasanya diinhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari satu sampai tiga basil, gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus biasanya dibagian bawah lobus atas paru-paru atau dibagian lobus bawah basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfogosit bakteri namun tidak membunuh organisme tersebut. Sesudah hari-hari pertama maka leukosit diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumoni akut. Pneumoni selular ini dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa yang tertinggal atau proses dapat juga terus berjalan dan bakteri terus difogosit atau berkembang biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid, yang dikelilingi oleh limfosit. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 10 sampai 20 hari.
Nekrosis bagian sentral lesi memberikan gambaran yang relatif padat dan seperti lesi nekrosis ini disebut nekrosis caseosa. Daerah yang mengalami nekrosis caseosa dan jaringan granulasi disekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid dan fibroblas menimbulkan respon berbeda. Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa, membentuk jaringan parut yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel.
Lesi primer paru-paru dinamakan fokus Ghan dan gabungan terserangnya kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks Ghon. Kompleks ghon yang mengalami perkapuran ini dapat dilihat pada orang sehat yang kebetulan menjalani pemeriksaan radiologi rutin.
Respon lain yang terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, dimana bahan cair lepas ke dalam bronkhus dan menimbulkan kavitas. Kavitas yang kecil dapat menutup tanpa peradangan dengan meninggalkan jaringan parut. Bila peradangan mereda lumen bronkhus dapat menyempit dan terttutup oleh jaringan parut yang terdapat dekat dengan perbatasan bronkhus. Bahan perkijuan dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung, sehingga kavitas penuh dengan bahan perkijuan, dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak terlepas. Keadaan ini akan mengakibatkan peradangan aktif pada bronkhus.
Penyakit menyebar secara limfohemotogen melalui kelenjar-kelenjar getah bening dan secara hemotogen ke seluruh organ tubuh.


6. Penatalaksanaan medis
Prinsip pengobatan tuberculosis
a. Aktivitas Obat
Terdapa dua macam sifat atau aktivitas obat terhadap tuberculosis yaitu:
1) Aktivitas Baktericide
Obat bersifat membunuh kuman yang sedang tumbuh (metabolismenya masih aktif). Aktivitas bakteriside biasanya diukur dari kecepatan obat tersebut membunuh kuman sehingga pada pembiakan mendapatkan hasil negatif (dua bulan dari permulaanpengobatan)
2) Aktivitas sterilisasi
Obat bersifat membunuh kuman yang pertumbuhannya lambat (metabolismenya kurang aktif). Aktivitas sterilisasi diukur dari angka keakmbuhan setelah pengobatan dihentikan.

b. Panduan obat
Untuk mencegah terjadinya retensi ini terapi tuberculosis dilakukan dengan paduan obat, sedikitnya diberikan 2 macam obat yang bersifat bakteriside.
Jenis obat yang dipakai:
1) Obat janis primer
- Isoniazid
Dikenal dengan INH, bersifat bakterisid, dapat membunuh 90 % populasi kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan. Obat ini sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolic aktif, yaitu kuman yang sedang berkembang. Dosis harian yang dianjurkan 5 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan interemitten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 10 mg/kgBB
- Ripamficin
Bersifat baktericid, dapat membunuh kuman semi-dormant (persister) yang tidak dapat dibunuh oleh Isoniazid. Dosis 10 mg/kgBB diberikan sama untuk pengobatan harian maupun interemitten 3 kali seminggu
- Pirazinamid
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Dosis harian yang dianjurkan 25 mg/kgBB, sedangkan untuk pengobatan interemitten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35 mg/kgBB
- Streptomicin (S)
Bersifat bakterisid, dosis harian yang dianjurkan 15mg/kgBB sedangkan untuk pengobatan interemitten 3 kali seminggu digunakan dosis yang sama. Penderita berumur sampai 60 tahun dosisnya 0,75 gr/hari, sedangkan untuk berumur 60 tahun atau lebih diberikan a,5 gr/hari.
- Etambutol (E)
Bersifat sebgai bakteriostatik, dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kgBB sedangkan untuk pengobatan interemitten 3 kali seminggu digunakan dosis 30 mg/kgBB.
2) Obat jenis sekunder
- Etionamid
- Protionamid
- Sikloserin
- Kanamycin
- PAS
- Tiasevazon
- Viomicin
- Kompreomicin
WHO dan IUATLD ( International Union Against Tuberculosis and Lung Diseases ) merekomendasikan paduan OAT standar yaitu
1.Kategori I ( 2HRZE/4H3RE )

Tahap Pengobatan Lamanya pengobatan Dosis per hari / kali Jumlah Hari/kali menelan obat
Tablet Isoniazid
@300 mg Kaplet Rifamfisin @ 450 mg Tablet Pirazinamide @ 500 mg Tablet Ethambuthol @ 250 mg
Tahap intensif (dosis harian) 2 bulan 1 1 3 3 60
Tahap lanjutan (dosis 3 x seminggu) 4 bulan 2 1 - - 54
Ket : dosis tersebut diatas untuk penderita dengan BB antara 33-50 kg

Obat ini diberikan untuk
- Penderita TBC Paru BTA Positif.
- Penderita TBC Paru BTA negatif Rontgen positif yang “sakit berat “
- Penderita TBC Ekstra Paru berat

2. Katagori 2 (2HRZES/HRZE/5H3R3E3)
Tahap Lamanya Peng-obatan Tablet Isoniazid
@300 mg Kaplet Rifamfisin @ 450 mg Tablet Pirazinamide @ 500 mg Etambutol Streptomicin Injeksi Jumlah hari / kali menelan obat
Tablet @ 250 mg Tablet @ 500 mg
Tahp Intensif (dosis harian)
2 bulan 1 1 3 3 - 0,75 gr 60
1 bulan 1 1 3 3 - - 30
Tahap Lanjutan (dosis 3 x Seminggu) 5 bulan 2 1 - 1 2 - 66
Keterangan : dosis tersebut diatas untuk penderita dengan BB antara 33-50 kg
Obat ini dibarikan untuk :
- Penderita kambuh (Relaps)
- Penderita gagal (Failure)
- Penderita dengan pengobatan setelah lalai (after default)
3. Kategori 3 (2HREZ/4HR3)
Tahap pengobatan Lamanya pengobatan Tablet Isoniazid
@300 mg Kaplet Rifamfisin @ 450 mg Tablet Pirazinamide @ 500 mg Jumlah hari /kali menelan obat
Tahp Intensif (dosis harian) 2 bulan 1 1 3 60
Tahap Lanjutan (dosis 3 x Seminggu) 4 bulan 2 1 - 54
Keterangan : dosis tersebut diatas untuk penderita dengan BB antara 33-50 kg
Obat ini diberikan untuk :
- Penderita baru BTA negatif dan rontgen positif sakit ringan
- Penderita ekstra paru ringan yaitu kelenjar limfe (limpadenitis), pleuritis eksudativa unilateral, TBC kulit, TBC tulang ( kecuali tulang belakang) sendi dan kelenjar adrenal
OAT Sisipan (HRZE)
Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori I atau atau penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori II, hasil pemeriksaan dahak masih BTA postif, diberikan sisipan HRZE setiap hari selama 1 bulan.

Tahap pengobatan Lamanya pengobatan Tablet Isoniazid
@300 mg Kaplet Rifamfisin @ 450 mg Tablet Pirazinamide @ 500 mg Tablet Ethambuthol @ 250 mg Jumlah hari /kali menelan obat
Tahp Intensif (dosis harian) 1 bulan 1 1 3 3 30
Keterangan : dosis tersebut diatas untuk penderita dengan BB antara 33-50 kg
Sumber : PEDOMAN NASIONAL PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS, DEPKES RI, JAKARTA 2002:39






Obat-obat Untuk Pengobatan Tuberculosis
Nama Obat Dosis Efek samping Utama Pemantauan Keterangan
Harian Dua kali seminggu
Pengobatan awal
Isoniazid 300mg PO/IM(10-20mg/kg 15mg /kg PO atau IM Neuritis perifer, hipersensitivitas, hepatitis
Peningkatan enzim-enzim hati AST/ALT Untuk neuritis: piridoksin 10 mg sebagai pencegahan 50-100 mg untuk pengobatan
Rifampin 600mg PO (10-20mg/kg) 600mg PO Gangguan saluran pencernaan (anoreksia,mual, muntah diare); hepatitis Ast/ALT(tidak rutin), alkali fosfatase, bilirubin Dapaat perlu penyesuaian obat yang dapat dipakai dengan kontrasepsi oral,antikoagulan, kortikosteroid
Etambutol hidroklorida 15-25mg/kg PO 50mg/kg PO Neuritis optika(reversibel bila obat segera dihentikan), ruam pada kulit Neuritis optika (berkurangnya kemampuan untuk membedakan warna merah-hijau, berkurangnya ketajaman penglihatan), ruam kulit Tidak dianjurkan diberikan pada wanita hamil harus diberikan secara hati-hati pada penderita insufiensi ginjal
Pyrazinamide 2 g PO (15-30 mg/kg) 50-70 mg/kg PO Hepatotoksik, hiperurisemia, atralgia, ruam kulit AST/ALT
Asam urat Allopurinol atau probonesid untuk mengurangi asam uarat serum
Streptomycin sulfat 0,75-1 g IM (15-20 mg/kg) 25-30 mg/kg IM Ototoksik (saraf keenam rusak) hipersensitivitas, nefrotoksik (jarang) Audiogram fungsi vestibular, BUN. Dan kreatin Berikan dengan hati-hati pada individu yang agak tua hindari penggunaan obat ini untuk penderita insufiensi ginjal
Obat-obaat pilihan kedua
Capreomycin 1 g IM (15-30mg/kg) Nefrotoksik, ootksik(kerusakan saraf kedelapan), hepaatotoksik Audiogram fungsi vestibular, BUN. Dan kreatin Berikan dengan hati-hati pada individu yang agak tua hindari penggunaan obat ini untuk penderita insufiensi ginjal
Cycloserine 1 g PO (15-20mg/kg Perubahan personalitas, psikosis, kejang, ruam Tes psikologi Obat neurotoksisitas dengan piridoksin 100-200 mg setiap hari, efeksamping dapat ditahan dengan antikejang atau obat ataraktik
Ethionamide 0,5-1 g PO(15-20mg/kg) Intoleransi saluran cerna,hepatotoksik, hipersensitivitas AST/ALT Memberikan obat dalam dosisis terbagi dapat mengurangi efek samping pada saluran pencernaan
kanamycin 1 g IM(15-30 mg/kg) Toksiistas auditori, nefrotoksik Audiogram fuingsi ventibular, BUN, dan kreatin Berikan dengan hati-hati pada individu yang agak tua
Jarang diberikan penderita insufisiensi ginjal
Asam para aminosalisilat(PAS; Amino salicylid acid 12 g PO(150mg/kg) Gaangguan saaluran cerna(mual,muntah, diare, sakit perut), hipersensitivitaas, hepatotoksik AST/ALT Sering mengalami gangguan gastrointestinal
Sumber : American Thoracic society: Treatment of Tuberculosis and tuberculois infection in adult (Sylvia A. Price,1995;760)

c. Efek samping obat-obat anti TB
1) INH : bisa menimbulkan neuropatik perifer ini dapat dicegah dengan pemberian Vitamin B6
2) Rifampicin : hepatotoxic, urine berwarna orange
3) Pirazinamid : hepatotixic, hyperurisemia
4) Streptomicin : nefrotixic, gangguan nervus cranial ke 8
5) Etambutol : neuritis optika, nefrotoxic, skin rash/ dermatitis
6) Etionamid : hepatotoxic, gangguan pencernaan

7. Komplikasi
Komplikasi yang munkin terjadi akibat penyakit TB paru diantaranya adalah :
a. Pada mata
- Konjungtivitis
- Ulserasi koroner
b. Pada telinga dan mulut
- pada telinga : mastoiditis
- pada mulut : pembengkakan gigi dan tonsil
c. Pada abdomen
Asites, kuman tuberculosis pada cavum abdomen, peritonitis abdominalis, jika terjadi penyebaran hematogen dari proses diparu
d. Pada kelenjar getah bening
Terjadi karena penyebaran limphogen, kelenjar getah bening dileher, ketiak dan lipatan paha.

e. Pada otak dan selaput otak
Meningitis tuberculosis
f. Pada tulang
Biasanya terjadi pada tukang belakang, kelemahan atau paralise tungkai. Terjadi karena penyebaran heatogen dari paru-paru. TB pada tractus genitourinarius dan pada tulang sering ditemukan tanpa adanya fokus di paru-paru.
g. Pada kulit
Penebalan pada kulit
h. Pada ginjal dan traktus genitourinarius
Cistitis yang nyata karena penyebaran hematogen
i. Pada cardivaskuler
- myocarditis
- pericarditis
j. Komplikasi lain
Hemaptoe, pneumothorax spontan, bronchiektasis, insufiensi paru-paru (respiratori failure).
9. Dampak Tuberkulosis Paru Terhadap Sistem-sistem Tubuh Lain
Sistem pernafasan
Mycobacterium tuberculosa masuk ke dalam paru-paru dan membentuk tuberkulosa sehingga terjadi penebalan membran paru yang mengakibatkan difusi oksigen terganggu sehingga intake oksigen ke dalam paru tidak kuat. Proses peradangan dapat meningkatkan sekresi mukus dalam bentuk sputum yang menghambat jalan nafas sehingga ventilasi pulmonal terganggu. Proses peradangan mengakibatkan jaringan paru mati dan berongga, kemudian pembuluh darah pecah dan terjadilah hemaptoe.
Sistem cardiovaskular
Proses peradangan pada paru menyebabkan perubahan pada jaringan paru sehingga menghambat sirkulasi pulmonal sehingga tekanan pada area pulmonal meningkat dan hal ini berpengaruh pada peningkatan tekanan ventilasi kanan sehingga menyebabkan terjadinya pleura pulmonal. Gangguan difusi oksigen menyebabkan kadar oksigen dalam sirkulasi darah menurun sehingga perfusi jaringan menurun yang ditandai dengan adanya cyanosis pada beberapa bagian tubuh, tekanan darah menurun, nadi lemah.
Sistem pencernaan
Kadar oksigen dalam sirkulasi darah menurun sehingga supply oksigen ke otak pun menurun dan mempengaruhi hypothalamus untuk merangsang nervus vagus mengeluarkan HCl yang berlebihan yang menimbulkan mual dan anorexia, sehingga menyebabkan penurunan berat badan
Kadar oksigen dalam sirkulasi darah menurun menyebabkan supply oksigen ke sel dan jaringan menurun, maka terjadi penurunan proses metabolisme.
Disamping itu pada klien TBC paru yang sudah lama mendapat pengobatan spesifik therapi, efek samping dari pemberian INH dan Ethambutol yang lama akan meningkatkan yang lama akan meningkatkan sekresi HCl sehingga menimbulkan mual dan anorexia.
Sistem persyarafan
Penurunan kadar oksigen menyebabkan kadar CO2 dalam darah yang merangsang pusat syaraf di medula oblongata dan pons untuk meningkatkan kerja otot pernafasan sehingga merangsang RAS menyebabkan klien terjaga. Proses peradangan juga menimbulkan batuk yang lama, sehingga seringkali timbul nyeri dada. Rangsangan nyeri dan merangsang hypothalamus sehingga nyeri dipersepsikan. Proses peradangan menyebabkan kompensasi tubuh untuk meningkatkan metabolisme sehingga terjadi peningkatan suhu tubuh.
Sistem muskuloskeletal
Penurunan kadar oksigen dalam darah menyebabkan supply oksigen ke jaringan menurun yang mengakibatkan proses pembentukan ATP terhambat, akibatnya energi yang dihasilkan sedikit, menyebabkan klien merasa lelah dan lemah.


10. Komplikasi Tuberkulosis
Penyebaran infeksi tuberkulosis ke bagian tubuh nonpulmonal dikenal sebagai TB miliaris. TB ini diakibatkan oleh invasi aliran darah sebagai oleh bacillus tuberkel (tuberkel ghon). Biasanya invasi ini terjadi akibat reaksi lambat infeksi dorman dalam paru atau di tempat lain dan menyebar melalui darah ke organ lainnya. Basil yang memasuki aliran darah dapat berasal dari fokus kronis yang mengalami ulserasi ke dalam pembuluh darah atau pembesaran tuberkel yang melapisi permukaan dalam duktus torakik. Organisme bermigrasi dari fokus infeksi ke dalam aliran darah, terbawa ke seluruh tubuh, dan berdiseminasi melalui semua jaringan, dengan tuberkel miliaris kecil yang berkembang dalam paru-paru, limpa, hepar, meningen dan organ lainnya.
Perjalanan klinis tuberkulosis miliaris dapat beragam dari infeksi akut, berkembang secara progresif dengan demam tinggi sampai proses indolen dengan demam tingkat rendah, anemia dan perlemahan tubuh secara keseluruhan. Pada awalnya mungkin tidak terdapat tanda lokalisasi kecuali pembesaran limpa dan menurunnya jumlah leukosit. Namun demikian dalam beberapa minggu rontgen dada menunjukkan ketebalan kecil menyebar secara difu ke seluruh bidang paru yang kemudian semakin meningkat jumlahnya.
Penyebaran TB pada ginjal mengakibatkan perubahan fungsi ginjal hingga terjadi gagal ginjal. Pada meringen menyebabkan kerusakan sel otak dan berakibat kerusakan kesadaran. Penyebaran pada muskuloskeletal berakibat kerusakan pada tulang dan kemungkinan fraktur spontan akibat osteomielitis dari infeksi TB.
Efusi plura dapat terjadi 6 – 12 bulan setelah terbentuknya kompleks primer, komplikasi pada tulang dan kelenjar getah bening permukaan (superfisial) dapat terjadi akibat penyebaran hematogen, hingga dapat terjadi dalam 6 bulan setelah terbentuknya kompleks primer, tetapi komplikasi ini dapat terjadi dalam 3 bulan, pleuritis dan penyebaran bronchogen dalam 6 bulan dan tuberkulosis tulang dalam 1 – 5 tahun setelah terbentuknya kompleks primer.



Konsep Dasar Asuhan Keperawatan TB Paru
Pengkajian
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang pasien agar dapat mengidentifikasi, mengenai masalah-masalah kebutuhan kesehatan dan keperawatan klien baik fisik, mental, sosial, dan lingkungan
Pengumpulan data
1) Identitas
a) identitas klien, perlu dikaji identitas yang mempunyai hubungan meliputi: nama, umur hubungan dengan penyakit tidak terbatas pada semua umur tetapi anak-anak dan orangtua lebih rentan terhadap penyakit ini, jenis kelamin lebih sering laki-laki terkena daripada perempuan karena faktor kebiasaan seperti merokok, pendidikan hubungan dengan penyakit pendidikan rendah biasanya kurang pengetahuan tentang penyakit ini, pekerjaan hubungan dengan penyakit orang-orang yang bekerja di udara terbuka lebih sering terkena seperti kuli bangunan, sopir, status marital berpengaruh pada proses penularan, agama, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, no.medrec., diagnosa medis dan alamat hubungannya dengan penyakit TBC apakah klien tinggal dilingkungan kumuh dan rumah ventilasi kurang.
b) Identitas penanggung jawab meliputi; nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat dan hubungan dengan klien.
2) Riwayat Kesehatan
a) Keluhan utama
Pada klien TB paru biasanya ditemukan keluhan utama berupa sesak nafas disertai batuk-batuk dan nyeri dada.
b) Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat kesehatan sekarang merupakan data yang menceritakan awitan gejala yang klien alami sehingga klien dibawa ke rumah sakit sampai dilakukan pengkajian. Riwayat kesehatan sekarang menggunakan metoda PQRST sebagai pengembangan dari keluhan utama. Metode ini meliputi hal-hal yang memperberat atau memperingan, kualitas dan kekerapannya, waktu timbulnya dan lamanya. Riwayat kesehatan dahulu
Perlu dikaji apakah klien pernah menderita penyakit serupa sebelumnya, tanyakan juga penyakit infeksi yang pernah diderita klien seperti pneumonia, bronkhritis dan lain-lain. Selain itu perlu juga dikaji pola kebiasaan sehari-hari mencakup aktifitas, penggunaan obat-obat tertentu, kebiasaan hygiene

c) Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan di keluarga apakah ada yang menderita PPOM atau penyakit paru seperti TB paru. Jika ada gambarkan dengan struktur keluarga. Bagaimana kondisi rumah dan lingkungan sekitarnya.
No Nama anggota keluarga Hub. Klg L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Agama Keadaan Kesehatan


3) Pola Aktivitas sehari-hari
Mengungkapkan pola aktivitas klien antara sebelum sakit dan sesudah sakit meliputi nutrisi, eliminasi, personal higiene, istirahat tidur, aktivitas dan gaya hidup.
4) Pemeriksaan Fisik
Dilakukan dengan cara inpeksi, palpasi, perpusi, dan auskultasi berbagai sistem tubuh, maka akan ditemukan hal-hal sebagai berikut:
a) Keadaan Umum
Pada klien yang diimobilisasi perlu dilihat dalam hal keadaan umumnya meliputi penampilan postum tubuh, kesadaran keadaan umum klien, tanda-tanda vital perubahan berat badan, perubahan suhu, bradikardi, labilitas emosional

b) Sistem kardiovaskuler
Kemungkinan terjadi penurunan tekanan darah, tachikardi, peningkatan JVP, konjungtiva pucat, perubahan jumlah hemoglobin/hematokrit dan leukosit, bunyi jantung S1 dan S2 mungkin meredup
c) Sistem Pernapasan
Nilai ukuran dan kesimetrisan hidung, pernafasan cuping hidung, deformitas, warna mukosa, edema, nyeri tekan pada sinus. Nilai-nilai ukuran, bentuk dan kesimetrisan dada, adanya nyeri, ekspansi paru, pola pernapasan, penggunaan otot-otot pernafasan tambahan, sianosis, bunyi nafas dan frekuensi nafas. Biasanya pada klien TB paru aktif ditemukan dispneu, nyeri pleuritik luas, deviasi trachea, sianosis. Ekspansi paru berkurang pada sisi yang terkena, perkusi hipersonar, suara nafas berkurang pada sisi yang terkena, vokal fremitus berkurang. Terdengar ronchi basah atau kering.
d) Sistem Gastrointestinal
Kaji adanya lesi pada bibir, kelembaban mukosa, nyeri stomatitis, keluhan waktu mengunyah. Amati bentuk abdomen, lesi, nyeri tekan adanya massa, bising usus. Biasanya ditemukan keluhan mual dan anorexia, palpasi pada hepar dan limpe biasanya mengalami pembesaran bila telah terjadi komplikasi
e) Sistem Genitourinari
Kaji terhadap kebutuhan dari genetalia, terjadinya perubahan pada pola eliminasi BAK, jumlah urine output biasanya menurun, warna, perasaan nyeri atau terbakar. Kaji adanya retensio atau inkontinensia urine dengan cara palpasi abdomen bawah atau pengamatan terhadap pola berkemih dan keluhan klien.
f) Sistem Muskuloskeletal
Kaji pergerakan ROM dari pergerakan sendi mulai dari kepala sampai anggota gerak bawah, kaji nyeri pada waktu klien bergerak. Pada klien pneumothorax akibat TB ditemukan keletihan, perasaan nyeri pada tulang-tulang dan intolerance aktivitas pada saat sesak yang hebat.
g) Sistem Endokrin
Kaji adanya pembesaran KGB dan tiroid, kaji adakah riwayat DM pada klien dan keluarga.
h) Sistem Persyarafan
Kaji tingkat kesadaran, penurunan sensori, nyeri, refleks, fungsi syaraf kranial dan fungsi syaraf serebral. Pada klien TB paru bila telah mengalami TB miliaris maka akan terjadi komplikasi meningitis yang berakibat penurunan kesadaran, penurunan sensasi, kerusakan nervus kronial, tanda kernig dan bruzinsky serta kaku kuduk yang positif
i) Sistem Integumen
Kaji keadaan kulit meliputi tekstur, kelembaban, turgor, warna dan fungsi perabaan, kaji turgor kulit dan perubahan suhu. Pada klien TB paru ditemukan fluktuasi suhu pada malam hari, kulit tampak berkeringat dan perasaan panas pada kulit. Bila klien mengalami tirah baring lama akibat pneumotorax, maka perlu dikaji adakah kemerahan pada sendi-sendi/tulang yang menonjol sebagai antisipasi dari dekubitus.
5) Data Psikososial
a) Status emosi : pengendalian emosi, mood yang dominan, mood yang dirasakan saat ini, pengaruh atas pembicaraan orang lain, kestabilan emosi.
b) Konsep diri: bagaimana klien melihat dirinya sebagai seorang pria, apa yang disukai dari dirinya, sebagaimana orang lain menilai dirinya, dapat klien mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan.
c) Gaya komunikasi : cara klien bicara, cara memberi informasi, penolakan untuk berespon, komunikasi non verbal, kecocokan bahasa verbal dan nonverbal.
d) Pola interaksi: kepada siapa klien menceritakan tentang dirinya, hal yang menyebabkan klien merespon pembicaraan, kecocokan ucapan dan perilaku, anggapan terhadap orang lain, hubungan dengan lawan jenis.
e) Pola koping: apa yang dilakukan klien dalam mengatasi masalah, adakah tindakan maladaptif, kepada siapa klien mengadukan masalah.
f) Sosial: tingkat pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, teman dekat, cara pemanfaatan waktu dan gaya hidup.
6) Data Spiritual
Arti kehidupan, yang penting dalam kehidupan, keyakinan tentang penyakit dan proses kesembuhan, hubungan kepercayaan dengan Tuhan, ketaatan menjalankan ritual agama, keyakinan bantuan Tuhan dalam proses kesembuhan yang diyakini tentang kehidupan dan kematian
7) Data Penunjang
Pemeriksaan laboratorium : darah yaitu Hb, leukosit, trombosit, hematokrit, AGD, pemeriksaan radiologik : thorax foto, sputum dan bila perlu pemeriksaan LCS
Data penunjang untuk klien dengan TB paru yaitu :
(a) Pemeriksaan darah
- anemia terutama bila periode akut
- leukositosis ringan dengan predominasi limfosit
- LED meningkat terutama fase akut
- AGD menunjukkan peninggian kadar CO2
(b) Pemeriksaan radiologik
Karakteristik radiologik yang menunjang diagnosis antara lain:
- bayangan lesi radiologik yang terletak di lapangan atas paru
- bayangan yang berawan atau berbercak
- adanya kalsifikasi
- kelainan yang bilateral
- bayangan menetap atau relatif menetap beberapa minggu
- bayangan milier
(c) Pemeriksaan Bakteriologik
Ditemukannya kuman mycobacterium tuberculosis dari dahak penderita TB
(d) Uji Tuberkulin (Mantoux tes)
Uji tuberkulin dilakukan dengan cara mantaoux yaitu penyuntikan melalui intrakutan menggunakan semprit tuberkulin 1 cc jarum no : 26. Uji tuberkulin positif jika indurasi lebih dari 10 mm pada gizi baik atau 5 mm pada gizi buruk. Hal ini dilihat setelah 72 jam penyuntikan. Bila uji tuberkulin positif menunjukkan adanya infeksi TB paru
8) Therapi
- Agen anti infeksi
Obat primer : isoniazid (INH), ethambutol, rifampycin, streptomycin
- Diet TKTP
- Cairan rehidrasi RL
Analisa data
Analisa data adalah kemampuan mengaitkan data dan menghubungkan data tersebut dengan konsep, teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah kesehatan dan perawatan klien
Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu respon individu pada masalah kesehatan yang aktual maupun potensial
Dalam buku diagnosa keperawatan menurut Doenges (1999:119-123)
Pola pernapasan tidak efektif berhubungan dengan akumulasi sekret
Resiko infeksi berulang berhubungan dengan sistem pertahanan tubuh yang menurun
Tidak efektifnya bersihan jalan napas berhubungan dengan sekret kental di jalan napas
Resiko kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan luas permukaan paru
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia
Kurang pengetahuan tentang kondisi, aturan tindakan dan pencegahan berhubungan dengan keterbatasan kognitif


Perencanaan
Perencanaan adalah keputusan awal tentang apa yang dilakukan, bagaimana, kapan, dan siapa yang melakukan kegiatan tersebut.
1. Pola pernafasan tidak efektif berhubungan dengan akumulasi udara
Tupan : Pola pernafasan efektif
Kriteria evaluasi : - Pola pernafasan efektif
- Frekuensi pernafasan normal
- GDA hasil normal
- Tidak terdapat cianosis
INTERVENSI RASIONAL
Mengidentifikasi etiologi/faktor pencetus, contoh kolaps spontan, trauma, keganasan, intake, komplikasi ventilasi mekanik. Pemahaman penyebab kolaps paru perlu untuk pemasangan selang dada yang tepat dan memilih tindakan terapeutik lain.
Awasi kesesuaian pola pernafasan bila menggunakan ventilasi mekanik. Catat perubahan tekanan udara.
Kesulitan bernafas “dengan” ventilator dan/atau peningkatan tekanan jalan nafas diduga memburuknya kondisi/terjadinya komplikasi (misal: ruptur spontan dan bleb, terjadinya pneumotorak)
Evaluasi fungsi pernafasan, catat kecepatan/pernafasan serak, dispnea, keluhan ”lapar udara”, terjadinya sianosis, perubahan tanda vital.
Distres pernafasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stres fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syok sehubungan dengan hipoksia/perdarahan.

Auskultasi bunyi nafas.
Bunyi nafas dapat menurun atau tak ada pada lobus, segmen paru atau seluruh area paru (unilateral). Area atelektasis tak ada bunyi nafas, dan sebagian area kolaps menurun bunyinya. Evaluasi juga dilakukan untuk area yang baik pertukaran gasnya dan memberikan data evaluasi perbaikan pneumotorak.
Catat pengembangan dada dan posisi trakea.
Pengembangan dada sama dengan ekspansi paru. Deviasi trakea dari area sisi yang sakit pada tegangan pneumotorak
Kaji fremitus. Suara dan taktil fremitus (vibrasi) menurun pada jaringan yang terisi cairan/konsolidasi.
Kaji pasien adanya area nyeri tekan bila batuk, nafas dalam. Sokongan terhadap dada dan otot abdominal membuat batuk lebih efektif/mengurangi trauma.
Pertahankan posisi nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong pasien untuk duduk sebanyak mungkin.
Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekspansi paru dan ventilasi pada sisi yang tak sakit
Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk “kontrol diri” dengan menggunakan pernafasan lebih lambat/dalam. Membantu pasien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ansietas dan/atau takut.

Bila selang dada dipasang:
Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan yang benar (batas air, pengatur dinding/meja disusun dengan tepat);
Periksa batas cairan pada botol penghisap; pertahankan pada batas yang ditentukan. Mempertahankan tekanan negatif intrapleural sesuai yang diberikan, yang meningkatkan ekspansi paru optimum dan/atau drainase cairan.

Air botol penampung bertindak sebagai pelindung udara atmosfir masuk ke area pleural, jika sumber penghisap diputuskan dan membantu dalam evaluasi apakah sistem drainase dada berfungsi dengan tepat.
Observasi gelembung udara botol penampung;
Gelembung udara selama ekspirasi menunjukkan lubang angin dari pneumotorak (kerja yang diharapkan). Gelembung biasanya menurun seiring dengan ekspansi paru dimana area pleural menurun. Tak adanya gelembung dapat menunjukkan ekspansi paru lengkap (normal) atau adanya komplikasi misal; obstruksi dalam selang.
Evaluasi ketidaknormalan/kontinuitas gelembung botol penampung Dengan bekerjanya penghisapan, menunjukkan kebocoran udara menetap yang mungkin berasal dari pneumotorak besar pada sisi pemasangan selang dada (berpusat pada pasien) atau unit drainase dada (berpusat pada sistem)

Tentukan lokasi kebocoran udara (berpusat pada pasien atau sistem) dengan mengklem kateter torak pada hanya bagian distal sampai ke luar dari dada. Bila gelembung berhenti saat kateter diklem pada sisi pemasangan, kebocoran terjadi pada pasien (pada sisi pemasukan atau dalam tubuh pasien).
Berikan kasa berminyak dan/atau bahan lain yang tepat disekitar sisi pemasangan sesuai indikasi. Biasanya memperbaiki kebocoran pada sisi insersi.
Klem selang pada bagian bawah unit drainase bila kebocoran udara berlanjut. Mengisolasi lokasi kebocoran udara pusat sistem.
Tutup rapat sambungan selang drainase dengan aman menggunakan plester atau ban sesuai kebijakan yang ada Mencegah/memperbaiki kebocoran pada sambungan
Awasi “pasang surutnya” air penampung. Catat apakah perubahan menetap atau sementara. Botol penampung bertindak sebagai manometer intrapleural (ukuran tekanan); sehingga fluktuasi (pasang-surut) menunjukkan perbedaan tekanan antara inspirasi dan ekspirasi. Pasang surut 2-6 cm selama inspirasi normal, dan dapat meningkat sedikit selama batuk. Berlanjutnya fluktuasi pasang surut berlebihan dapat menunjukkan obstruksi jalan nafas atau adanya pneumotorak besar.
Posisikan sistem drainase selang untuk fungsi optimal, contoh koil selang ekstra di tempat tidur, yakinkan selang tidak terlipat atau menggantung di bawah saluran masuknya ke wadah drainase. Alirkan akumulasi drainase bila perlu. Posisi tak tepat, melipat atau pengumpulan bekuan/cairan pada selang mengubah tekanan negatif yang diinginkan dan membuat evakuasi udara/cairan.
Catat karakter/jumlah drainase selang dada. Berguna dalam mengevaluasi perbaikan kondisi/terjadinya komplikasi atau perdarahan yang memerlukan upaya intervensi.
Evaluasi kebutuhan untuk memijat selang (milking) Meskipun tak seperti drainase serosa atau serosanguinosa akan menghambat selang, pemijatan mungkin perlu untuk meyakinkan/ mempertahankan drainase pada adanya perdarahan segar/bekuan darah besar atau eksudat purulen (empiema)
Pijat selang hati-hati sesuai protokol, yang meminimalkan tekanan negatif berlebihan. Pemijatan biasanya tidak nyaman untuk pasien karena perubahan tekanan intratorakal, dimana dapat menimbulkan batuk atau ketidaknyamanan dada. Pemijatan keras dapat menimbulkan tekanan hisapan intratorakal yang tinggi, yang dapat mencederai, (mis., invaginasi jaringan ke dalam ujung selang, kolapsnya jaringan sekitar kateter, dan/atau perdarahan dari pembuluh darah kecil yang ruptur)

Bila kateter torak terputus/lepas:
Observasi tanda distres pernafasan. Sambungkan kateter torak ke selang/penghisap, bila mungkin, gunakan teknik yang bersih. Bila kateter terlepas dari dada, tutup segera sisi lubang masuk dengan kasa berminyak dan gunakan tekanan lembut. Laporkan ke dokter.
Pneumotorak dapat terulang dan memerlukan intervensi cepat untuk mencegah pulmonal fatal dan gangguan sirkulasi.
Setelah kateter torak dilepas:
Tutup sisi lubang masuk dengan kasa steril. Observasi tanda/gejala yang dapat menunjukkan berulangnya pneumotorak, contoh nafas pendek, keluhan nyeri.
Lihat sisi lubang masuk, catat karakter drainase. Deteksi dini terjadinya komplikasi penting, contoh berulangnya pneumotorak, adanya infeksi.
Kaji seri foto torak Mengawasi kemajuan perbaikan hemotorak/pneumotorak dan ekspansi paru. Mengidentifikasi kesalahan posisi selang endotrakeal mempengaruhi inflasi paru.
Awasi/gambarkan seri GDA dan nilai oksimetri. Kaji kapasitas vital/ pengukuran volume tidal.
Berikan oksigen tambahan melalui kanula/masker sesuai indikasi. Mengkaji status pertukaran gas dan ventilasi, perlu untuk kelanjutan atau gangguan dalam terapi.
Alat dalam menurunkan kerja nafas; meningkatkan penghilangan distres respirasi dan sianosis sehubungan dengan hipoksemia.

2. Resiko infeksi berulang berhubungan dengan penurunan sistem pertahanan tubuh;
Tupan : tidak terjadi infeksi berulang
Kriteria evaluasi : - Klien memahami pentingnya nutrisi
- Klien memahami pentingnya tidak putus obat
- BTA dan thorax foto menunjukkan perbaikan
INTERVENSI RASIONAL
Kaji patologi penyakit (aktif/fase tak aktif; diseminasi infeksi melalui bronkus untuk membatasi jaringan atau melalui aliran darah/sistem limfatik) dan potensial penyebaran infeksi melalui droplet udara selama batuk, bersin, meludah, bicara, tertawa, menyanyi. Membantu pasien menyadari/menerima perlunya mematuhi program pengobatan untuk mencegah pengaktifan berulang/komplikasi. Pemahaman bagaimana penyakit disebarkan dan kesadaran kemungkinan transmisi membantu pasien/orang terdekat untuk mengambil langkah untuk mencegah infeksi ke orang lain.
Identifikasi orang lain yang beresiko, contoh anggota rumah, sahabat karib/teman Orang-orang yang terpajan ini perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran/terjadinya infeksi
Anjurkan pasien untuk batuk/bersin dan mengeluarkan pada tisu dan menghindari meludah. Kaji pembuangan tisu sekali pakai dan teknik mencuci tangan yang tepat. Dorong untuk mengulangi demonstrasi Perilaku yang diperlukan untuk mencegah penyebaran infeksi
Kaji tindakan kontrol infeksi sementara, contoh masker atau isolasi pernafasan Dapat membantu menurunkan rasa terisolasi pasien dan membuang stigma sosial sehubungan dengan penyakit menular
Awasi suhu sesuai indikasi Reaksi deman indikator adanya infeksi lanjut
Identifikasi faktor risiko individu terhadap pengaktifan berulang tuberkulosis, contoh tahanan bawah (alkoholisme, malnutrisi/bedah bypass intestinal); gunakan obat penekan imun/kortikosteroid; adanya diabetes melitus, kanker, kalium. Pengetahuan tentang faktor ini membantu pasien untuk mengubah pola hidup dan menghindari/ menurunkan insiden eksaserbasi.
Tekanan pentingnya tidak menghentikan terapi obat Periode singkat berakhir 2-3 hari setelah kemoterapi awal, tetapi pada adanya rongga atau penyakit luas sedang, risiko penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan
Kaji pentingnya mengikuti dan kultur ulang secara periodik terhadap sputum untuk lamanya terapi Alat dalam pengawasan efek dan keefektifan obat dan respons pasien terhadap terapi
Dorong memilih/mencerna makanan seimbang. Berikan makan sering kecil makanan kecil pada jumlah makanan besar yang tepat. Adanya anoreksia dan/atau malnutrisi sebelumnya merendahkan tahanan terhadap proses infeksi dan mengganggu penyembuhan. Makan kecil dapat meningkatkan pemasukan semua.
Berikan agen antiinfeksi sesuai indikasi, contoh: obat utama: Isoniazid (INH), etambutol (Myambutol): rifampin (RMP/Rifadin) Kombinasi agen antiinfeksi digunakan, contoh 2 obat primer atau satu primer tambah 1 dan obat sekunder. INF biasanya obat pilihan untuk pasien infeksi dan pada risiko terjadi TB. Kemoterapi INH dan refampin jangan pernah (selama 9 bulan) dengan etambutol (selama 2 bulan pertama) pengobatan cukup untuk TB paru. Etambutol baru diberikan bila sistem saraf pusat atau tak terkomplikasi penyakit diseminata terjadi atau bila dicurigai resisten.
INH. Terapi luas (sampai 24 bulan) diindikasikan untuk kasus reaktivasi, reaktivasi TB ekstrapulmonal, atau adanya masalah medik lain, contoh diabetes melitus atau silikosis. Profilaksis dengan INH selama 12 bulan harus dipertimbangkan pada pasien dengan HIV positif dengan PPD positif.
Pirazinamida (PZA/Aldinamide): para-amino salisik (PAS); sikloserin (Seromycin); streptomisin (Strycin).
Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh hasil usap sputum





AST/ALT
Laporkan ke departemen kesehatan lokal. Ini obat sekunder diperlukan bila infeksi resisten terhadap atau tidak toleran obat primer.
Pasien yang mengalami 3 usapan negatif (memerlukan 3-5 bulan), perlu mentaati program obat, dan asimtomatik akan diklasifikasikan tak-menyebar.
Efek merugikan terapi obat termasuk hepatitis
Membantu mengidentifikasi lembaga yang dapat dihubungi untuk menurunkan penyebaran infeksi.



3. Tidak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan sekret kental di jalan nafas.
Tupan : Bersihan jalan nafas efektif
Kriteria evaluasi : - Klien dapat mengeluarkan sekret
- Frekuensi dan irama pernafasan normal
INTERVENSI RASIONAL
Kaji fungsi pernafasan, contoh bunyi nafas, kecepatan, irama dan kedalaman dan penggunaan otot akssesoris Penurunan bunyi nafas dapat menunjukkan atelektasi ronki, mengi menunjukkan akumulasi sekret/ketidakmampuan untuk membersihkan jalan nafas yang dapat menimbulkan penggunaan otot aksesori pernafasan dan peningkatan kerja pernafasan
Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa/batuk efektif; catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis Pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal (mis. efek infeksi dan/atau tidak adekuat hidrasi). Sputum berdarah kental datau darah cerah diakibatkan oleh kerusakan (kavitasi) paru atau luka bronkial dan dapat memerlukan evaluasi/intervensi lanjut.
Berikan pasien posisi semi atau fowler tinggi. Bantu pasien untuk batuk dan latihan nafas dalam Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernafasan. Ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret ke dalam jalan nafas besar untuk dikeluarkan.
Bersihkan sekret dari mulut dan trakea; penghisapan sesuai keperluan. Mencegah obstruksi/aspirasi. Penghisapan dapat diperlukan bila pasien tak mampu mengeluarkan secret
Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi Pemasukan tinggi cairan membantu untuk mengecerkan untuk mengencerkan sekret, membuatnya mudah dikeluarkan.
Lembabkan udara/oksigen inspirasi Mencegah pengeringan membran mukosa; membantu pengenceran secret
Beri obat-obatan sesuai indikasi:
Agen mulokitik, contoh asetilsistein (Mucomyst): Agen mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan sekret paru untuk memudahkan pembersihan
Brokodilator, contoh akstrifillin (Choledyl); teofilin (Theo-Dur). Bronkodilator meningkatkan ukuran lumen percabangan trakeobronkial, sehingga menurunkan tahanan terhadap aliran udara.
Kortikosteroid (Prednison) Berguna pada adanya keterlibatan luas dengan hipoksemia dan bila respon inflamasi mengancam hidup
Bersiap untuk/membantu intubasi darurat Intubasi diperlukan pada kasus jarang bronkogenik TB dengan edema laring atau perdarahan paru akut.

4. Resiko kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan luas permukaan paru
Tupan : tidak terjadi kerusakan pertukaran gas
Kriteria evaluasi : - GDA normal
- Tidak terdapat sianosis
- Tidak terdapat tanda distres pernafasan
INTERVENSI RASIONAL
Kaji dispnea, takipnea, tak normal/menurunnya bunyi nafas, peningkatan upaya pernafasan, terbatasnya ekspansi dinding dada, dan kelemahan TB paru menyebabkan efek luas pada pary dari bagian kecil bronkopneumonia sampai inflamasi difus luas, nekrosis, effusi pleural, dan fibrosis luas. Efek pernafasan dapat dari ringan sampai dispnea berat sampai distres pernafasan.
Evaluasi perubahan pada tingkat kesadaran. Catat sianosis dan/atau perubahan pada warna kulit, termasuk membran mukosa dan kuku Akumulasi sekret/pengaruh jalan nafas dapat mengganggu oksigenasi organ vital dan jaringan
Tunjukkan/dorong bernafas bibir selama ekshalasi, khususnya untuk pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim Membuat tahanan melawan udara luar, untuk mencegah kolaps/penyempitan jalan nafas, sehingga membantu menyebarkan udara melalui paru dan menghilangkan/menurunkan nafas pendek
Tingkatkan tirah baring/batasi aktivitas dan bantu aktivitas perawatan diri sesuai keperluan. Menurunkan konsumsi oksigen/kebutuhan selama periode penurunan pernafasan dapat menurunkan beratnya gejala.
Awasi seri GDA/nadi oksimetri Penurunan kandungan oksigen (PaO2) dan/atau saturasi atau peningkatan PaO2 menunjukkan kebutuhan untuk intervensi/perubahan program terapi
Berikan oksigen tambahan yang sesuai Alat dalam memperbaiki hipoksemia yang dapat terjadi sekuler terhadap penurunan ventilasi/menurunnya permukaan alveolar paru.

5. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anorexia
Tupan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria evaluasi : - Terdapat peningkatan berat badan
- Nilai laboratorium normal
- Lingkar lengan atas normal
INTERVENSI RASIONAL
Catat status nutrisi pasien pada penerimaan, catat turgor kulit, barat badan dan derajat kekurangan berat badan, integritas mukosa oral, kemampuan/ketidakmampuan menelan, adanya tonus usus, riwayat mual/muntah atau diare. Berguna dalam mendefinisikan derajat/luasnya masalah dan pilih intervensi yang tepat
Pastikan pola diet biasa pasien, yang disukai/tak disukai Membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan/kekuatan khusus. Pertimbangan keinginan individu dapat memperbaiki masukan diet
Awasi masukan/pengeluaran dan berat badan secara periodik Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan
Selidiki anoreksia, mual., dan muntah dan catat kemungkinan hubungan dengan obat awasi frekuensi, volume, konsistensi feses. Dapat mempengaruhi pilihan diet dan mengidentifikasi area pemecahan masalah untuk meningkatkan pemasukan/penggunaan nutrien
Dorong dan berikan periode istirahat sering Membantu menghemat energi khususnya bila kebutuhan metabolik meningkat saat demam
Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernafasan Menurunkan rasa tak enak karena sisa sputum atau obat untuk pengobatan respirasi yang merangsang pusat muntah.
Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan yang tak perlu/kebutuhan energi dari makan makanan banyak dan menurunkan iritasi gester
Dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah dan untuk membagi dengan pasien kecuali kontraindikasi Membuat lingkungan sosial lebih normal selama makan dan membantu memenuhi kebutuhan personal dan cultural
Rujuk ke ahli diet untuk menentukan komposisi diet. Memberikan bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet
Konsul dengan terapi pernafasan untuk jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum/setelah makan Dapat membantu menurunkan insiden mual dan muntah sehubungan dengan obat atau efek pengobatan pernafasan pada perut yang penuh
Awasi pemeriksaaan laboratorium, contoh BUN, protein serum dan albumin Nilai rendah menunjukkan malnutrisi dan menunjukkan kebutuhan intervensi/perubahan program terapi
Berikan antipiretik tepat Demam meningkatkan kebutuhan metabolic dan juga konsumsi kalori



6. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi aturan tindakan dan pencegahanberhubungan dengan keterbatasan kognitif
Tupan : pengetahuan tentang kondisi, aturan tindakan dan pencegahan bertambah
Kriteria evaluasi : - Terdapat perubahan perilaku kesehatan menuju lebih baik
- Klien paham tentang pengobatan
- Klien berpartisipasi aktif dalam pengobatan
INTERVENSI RASIONAL
Kaji kemampuan pasien untuk belajar, contoh tingkat takut, masalah, kelemahan, tingkat partisipasi, lingkungan terbaik dimana pasien dapat belajar, seberapa banyak isi, media terbaik, siapa yang terlihat Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan ditingkatkan pada tahapan individu
Identifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawat, contoh hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan bernapas, kehilangan pendengaran, vertigo Dapat menunjukkan kemajuan atau pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yang memerlukan evaluasi lanjut
Tekankan pentingnya mempertahankan protein tinggi dan diet karbohidrat dan pemasukan cairan adekuat Memenuhi kebutuhan metabolic membantu meminimalkan kelemahan dan meningkatkan penyembuhan. Cairan dapat mengencerkan/ mengeluarkan secret
Berikan instruksi dan informasi tertulis khusus pada pasien untuk rujukan contoh jadwal obat Informasi tertulis menurunkan hambatan pasien untuk mengingat sejumlah besar informasi. Pengulangan menguatkan belajar
Jelaskan dosis obat. Frekuensi pemberian. Kerja yang diharapkan, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, hipertensi orstotatik) dan pemecahan masalah Mencegah menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan terapi dan meningkatkan kerjasama dalam program
Tekankan kebutuhan untuk tidak minum alcohol sementara minum INH Kombinasi INH dan alcohol telah menunjukkan peningkatan insiden hepatitis
Rujuk untuk pemeriksaan mata setelah memulai dan kemudian tiap bulan selama minum etambutal Efek samping utama menurunkan penglihatan; tanda awal menurunnya kemampuan untuk melihat warna hijau
Dorong pasien/orang terdekat untuk menyatakan takut /masalah. Jawab pertanyaan secara nyata. Catat lamanya penggunaan penyangkalan Memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan konsepsi/ peningkatan ansietas.Ketidakadekuatan keuangan/penyangkalan lama dapat mempengaruhi koping dengan /manajemen tugas untuk meningkatkan/ mempertahankan kesehatan
Evaluasi kerja pada pengecoran logam/tambang gunung. Semburan pasir Terpajan pada demu silicon berlebihan meningkatkan resiko silicosis, yang dapat secara negatif mempengaruhi fungsi pernafasan/bronkrhitis
Dorong untuk tidak merokok Meskipun merokok tidak merangsang berulangnya TB, tetapi meningkatkan disfungsi pernapasan/bronkhritis
Kaji bagaimana TB ditularkan (misa. Khususnya dengan inhalasi organisme udara tetapi dapat juga menyebar melalui feses atau urine bila infeksi ada pada system ini) dan bahaya reaktivasi Pengetahuan dapat menurunkan resiko penularan/reaktivasi ulang. Komplikasi sehubungan dengan reaktivasi termasuk kavitasi, pembentukan abses, emfisema destruktif, pneumotorik spontan, firosis intertisial difus, effusi serosa, empiema, bronkiektasis, hemoptisi, luka GI, fistula bronkopleural, laryngitis tuberculosis, dan penyebaran miliari







BAB II
TINJAUAN TEORITIS

Konsep Dasar Penyakit TBC
1. Pengrtian
Tuberculosis adalah penyakit menular yang di sebabkan oleh kuman mycobacterium tubercolosa masuk ke dalam tubuh manusia melelui udara pernapasan ke dalam paru-paru kemudian kuman dapat menyebar dari paru-paru kebagian tubuh yang lain melalui system peredaran darah dan system saluran limfe atau penyebaran ke tubuh lainnya (Soeparman, Dkk, 1998:715).
Tuberculosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberkulosis, kuman batang tahan asam, ini meerupakan microorganisme patogen maupun sapropit. Ada beberapa mikrobakterium patogen terhadap manusia. Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 - 4/um, ukuran ini lbih kecil dari satu sel darah merah. (Price S.A & Wilson L.M, 1995:753).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberkulosis yang berbentuk batang tahan asam dan merupakan organisme patogen maupun saprofit. Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 – 4/um,ukuran ini lebih kecil dari satu sel darah merah. Kuman tuberkulosis ini masuk ke dalam tubuh melalui udara, pernafasan ke dalam paru-paru kemudian dapat menyebar dari paru-paru kebagian tubuh lain melalui sistem peredaran darah dan sistem limfe.
Etiologi TB Paru
Penyakit TBC disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis, yaitu sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4 cm dan tebal 0,3 x 2.
Spesies lain kuman ini yang dapat memberikan infeksi pada manusia sebagian besar kuman terdiri dari asam lemak atau lipid. Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik.
(Sutisna Hermawan, 1995 : 160).
Kuman dapat tahan hidup pada udara manapun dalam keadaan dingin (dapat bertahan bertahun-tahun dalam lemari es) hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant.
Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberculosis aktif kembali. Di dalam jaringan, kuman hidup sebagai parasit intraseluler yakni dalam sitoplasma makrofag.
Makrofag yang semula mem-pagositasi malah kemudia disenangi karena mengandung lipid.
Sifat lain dari kuman ini adalah aerob, sifat yang menunjukan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigen. Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apical paru-paru lebih tinggi daripada bagian lain, sehingga bagian apical ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberculosis.

1. Patofisiologi
Penularan TBC dapat terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan secara droplet infection, yaitu udara yang dihirup ketika bernafas. Percikan halus akan segera mongering tetapi bagian yang paling kecil akan tetap melayang di udara selama beberapa jam, hanya partikel yang kurang dari 10 micromilimeter dapat mencapai alveoli. Bila seseorang menghirup udara yang mengandung cukup basil TBC, maka basil tersebut akan masuk kedalam alveoli dan terjadi infeksi. Tempat implementasi kuman yang paling sering adalah permukaan alveoli dari perenkim paru-paru bagian bawah lobus atas atau bagian atas lobus bawah.
Reaksi yang ditimbulkan oleh basil ini merupakan suatu prosese peradangan alveoli yang akut. Tahap tersebut dapatsembuh sendiri, tetapi dapat berkembang lebih lanjut, dimana peradangan dapat menjadi infiltrasi dan kemudian membentuk tuberkel-tuberkel, perkejuan, fibrosisi, dan pengapuran atau peradangan menjadi degeneratif atau eksudat menjadi lebih banyak, tuberkel-tuberkel itu pecah, menjadi kaverne sehingga eksudat juga terbawa melalui kelenjar limfe maupun aliran darah yang mengakibatkan peradangan pada organ lainnya, antara lain : Peritonitis, Perikarditis, Pleuritis, KGB, Tulang. (Price Sylvia A. dan Wilson L.M, 1995:652).

2. Klasifikasi Tuberkulosis
Klasifikasi penyakit Tuberkulosis dapat dibedakan sebagai berikut :
a. Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk pleura (selaput paru).
Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TBC paru dibagi dalam :
1). Tuberkulosis BTA Positif
• Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak sewaktu-pagi-sewaktu (SPS) hasilnya positif.
• Satu spesimen dahak SPS hasilnya positif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.
2). Tuberkulosis Paru BTA Negatif
Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. TBC Paru BTA Negatif Rontgen Positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila gmabaran foto roentgen dada memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advance” atau millier), dan atau keadaan umum penderita buruk.

b. Tuberkulosis Ekstra Paru
Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (perikardium), kelenjar lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin dan lain-lain.
TBC Ekstra Paru dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu
1). TBC Ekstra Paru Ringan.
Misalnya TBC kelenjar Limphe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal.
2). TBC Ekstra Paru Berat
Misalnya : meningitis, milier, perikarditis,peritonitis, peluritis eksudativa duplex, TBC tulang belakang, TBC usus, TBC saluran kencing dan alat kelamin.



B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
b. Analisis Data
Merupakan tahap pengkajian dengan mengemukakan seluruh data yang menyimpang lalu di interpretasikan secara ilmiah sehingga didapatkan masalah keperawatan.





No Data Etiologi Masalah
1
















2




















3























4 DS :
Klien mengeluh batuk dan mengeluarka sekret.
DO :
• Klien tampak batuk.
• Klien mengeluarka sekret kental pada saat batuk.
• Rochi (+)






DS :
Klien mengatakan tidak nafsu makan dan mual
DO :
• Berat badan tida sesuai dengan tinggi badan
• Porsi makan tidak habis
• Berat badan menurun
• Conjungtiva anemis








DS :
Klien mengatakan sulit tidur karena batuk
DO :
• Klien tanpa lesu
• Sering menguap
• Mata kemerahan
• Gelap disekitar mata














DS :
Klien mengatakan tidak tahu bagaimana proses tentang penularan penyakit dan penyebarannya.
DO :
• Klien tampak cemas
• Tampak bertanya-tanya tentang penyakitnya










DS :
Klien mengatakan belum tahu berapa lama harus minum obat
Mycobacterium
Tuberkulosis

Masuk melalui saluran
Pernapasan paru-paru


Peradangan parenkim
Paru-paru


Mengakibatkan peningkatan Secret mukosa


Jalan nafas terhambat
oleh akumulasi secret


Bersihan jalan nafas tidak efektif


Invasi mycobacterium tuberculosis dalam tubuh



Meningkatkan aktivitas seluler


Peningkatan metobolisme berlebihan






Pemecahan karbohidrat lemak dan protein






Berat badan menurun



Penumpukan mucus pada jalan nafas dan paru-paru





Kompensasi tubuh untuk mengeluarkan mucus dan rangsangan batuk yang terus menerus pada siang dan malam





Peningkatan pada RAS





Klien terjaga





Tidur terganggu




Masuknya mycobacterium tuberculosis pada saluran pernafasan





Proses penyebaran melalui udara dan alat-alat





Klien dan keluarga belum mengetahui cara pencegahan dan penularan




Potensi penularan





Infeksi mycobacterium TBC pada paru




Proses pengobatan lama pada TB paru




Klien bosan dan jenuh




Potensial putus obat
Kebersihan jalan nafas tidak efektif















Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi


















Gangguan istirahat tidur






















Potensi terjadi penyebaran penularan


















Potensial putus obat








Sumber :Lynda Juali Capernito, Diagnosa Keperawatan, Aplikasi Praktek
Klinis, 1995 dan Standar Diagnosa Keperawatan penyakit Umum Terbesar, Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung, 1998.


c. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang bisa didapatka pada kien TB paru adalah sebagai berikut :
1) Gangguan bersih jalan nafas berhubungan dengan terakumulasinya sekret.
2) Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang kurang.
3) Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan batuk-batuk.
4) Potensial terjadi penularan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penularan penyakit paru.
5) Potensial terjadi putus obat berhubungan dengan kejenuhan dan kebosanan klien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar